<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ARRUM's JOURNEY</title>
	<atom:link href="http://arrumsari.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arrumsari.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 02 May 2009 08:44:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='arrumsari.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>ARRUM's JOURNEY</title>
		<link>http://arrumsari.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://arrumsari.wordpress.com/osd.xml" title="ARRUM&#039;s JOURNEY" />
	<atom:link rel='hub' href='http://arrumsari.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>serpihan dirimu</title>
		<link>http://arrumsari.wordpress.com/2009/04/28/diary-ladyra/</link>
		<comments>http://arrumsari.wordpress.com/2009/04/28/diary-ladyra/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2009 12:13:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arrumsari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diary Ladyra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arrumsari.wordpress.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[Jogyakarta, akhir Agustus 1999   (21.30 WIB)   Dear Diary, &#8220;Pembekuan darah.&#8221;  Dua patah kata dari Raja, mengabarkan separah apa sakit yang selalu dikeluhkannya selama ini. Aku tidak tau pasti, aku hanya sering melihatnya mual, sampai kemudian dia bilang, ulu hatinya sakit. &#8230; <a href="http://arrumsari.wordpress.com/2009/04/28/diary-ladyra/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arrumsari.wordpress.com&amp;blog=4560031&amp;post=126&amp;subd=arrumsari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Jogyakarta, akhir Agustus 1999   (21.30 WIB)</span></p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Dear Diary,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">&#8220;Pembekuan darah.&#8221;  Dua patah kata dari Raja, mengabarkan separah apa sakit yang selalu dikeluhkannya selama ini. Aku tidak tau pasti, aku hanya sering melihatnya mual, sampai kemudian dia bilang, ulu hatinya sakit. Seolah petir menyambarku. Tak ada yang kurasakan selain ketakutan yang teramat. Bayangan Budhe Soetiari yang meninggal setelah operasi pembekuan darah di otaknya. Otakku terasa kosong, badanku lemas. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Dan tak ada yang bisa kukatakan selain, &#8220;Kenapa bisa sampai begitu Raja?&#8221;. Raja hanya bilang, karna stress berat yang dia alami. Tuhan, apalagi ini. Kekasihku stress berat, dan aku tak tau apa yang sedang dipikirkannya selama ini. &#8220;Jika soal anak-anak, kita pikirkan bersama.&#8221;, aku menelan ludahku yang terasa  pahit. Kerongkonganku seolah tercekat, kata-kataku berhenti disitu. Iya, setelah satu tahun menjalin hubungan dengannya, baru kali ini aku mampu membicarakan tentang bocah-bocah kecil itu. &#8220;Iya, aku merindukan anak-anak. Terlebih yang paling kecil. Aku merasa tak berguna, tidak seharusnya mereka turut menanggung ini semua. Ibunya menusukkan ujung payung ke mulutnya hingga berdarah.&#8221;, aku mendengar Raja terisak. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Blarrr!! Petir benar-benar menyambarku kali ini. Akhirnya, kata-kata itu kudengar, akhirnya, pertahanan Raja luruh juga. Dan okh, wanita itu, &#8216;calon mantan istri&#8217; Raja, kenapa begitu kejam hingga harus menyiksa bocah tak berdosa itu. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Diantara segala sakit, diantara kekosongan yang menderaku, kucoba untuk terus bicara, &#8220;Aku mengerti Raja, aku tidak melarangmu bertemu mereka. Penuhi rindumu, temui mereka.&#8221; Sekarang leherku benar-benar tercekik. Bukan hanya pahit ludahku, tapi kerongkonganku sakit untuk menelan. Kusingkirkan segala ego, tentang wanita &#8216;calon mantan istri&#8217; itu, tentang anak-anak, tentang sebuah paket masalalu Raja yang harus kuterima utuh tanpa bisa kusingkirkan walau sekedar serpihannya. Aku hanya memikirkan sakit yang dialami Raja. Aku hanya ingin Rajaku sembuh.. Sejenak, hanya terdengar nafas kami. Diary, tak ada yang termohon dari  mulutku kecuali tentang kesembuhan Raja&#8230;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">&#8220;Dan sakitku ini, sebenarnya karena&#8230;&#8221; Kalimat Raja menggantung. &#8220;Karena aku memikirkanmu Dyra. Sakitku karena ulahmu yang terus melukai cinta kita Dyra.&#8221; </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Blam, gelap.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Tamparan keras menderaku, perih. Mataku berkunang-kunang. Aku memang telah membohongi Raja untuk beberapa hal. Hal terburuk adalah, aku mengkhianatinya dengan salah satu relasiku. Tapi setelah itu, sungguh aku tak berniat melukainya, terlebih mengkhianatinya. Aku memang sempat menghabiskan waktu untuk makan berdua dengan temanku, atau sekedar saling menyapa di dunia maya. Aku tau ini tak biasa untuk Raja, Raja yang selalu &#8216;lurus&#8217; untuk urusan kesetiaan, Raja yang selalu mencintaiku lebih dari dirinya. Tapi bukankah minggu kemarin saat kami bertemu di Jakarta, saat aku menemani Raja bertugas, kami sudah banyak bicara tentang semua ini. Pertengkaran hebat malam itu, kupikir adalah ujung dari segala maaf  Raja untukku. &#8220;Maafkan aku.&#8221; hanya itu, yang lagi-lagi mampu kuucapkan. &#8220;Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Tapi, aku tak percaya lagi padamu Dyra. Aku masih belum bisa melupakan ulahmu.&#8221; Rasanya aku mau terbang ke langit. Menghilang dari muka bumi. Sungguh ini tamparan yang dihadirkan Raja untukku. Setengah tak percaya, Raja tega mengatakan itu padaku. Raja sakit karenaku, Raja mengalami strees hingga darah membeku di ulu hatinya, karena aku. Kekasih macam apa aku ini.  </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Diary, kenapa ya Raja bisa memperlakukanku begini,  membuatku merasa sangat bersalah padanya. Seolah semua salah dimatanya. Bukankah aku sudah berusaha memperbaiki semua, tidak sesempurna yang dia inginkan, tapi setidaknya, aku terus memperbaikinya sedikit demi sedikit. Raja memintaku terlalu instant merubah diriku, Raja sama sekali tidak melihat proses yang terus kuusahakan, Raja mulai terasa menuntutku. Diantara rasa bersalahku, pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Jogyakarta, 30 Agustus 1999  (10.30 WIB)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Dear Diary,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Jogya siang ini begitu penat. Panas menyengat diantara asap kendaraan yang lalu lalang di depan Javana Hotel, tempatku bekerja setahun terakhir ini setelahku berpindah dari seorang banker menjadi asisten marketing manager di hotel berbintang empat ini. Selepas memeriksa minutes of meeting yang disodorkan Tia, sekretaris GM, tak banyak yang kukerjakan. Hari ini aku tak merencanakan mobile kemanapun, selain memenuhi undangan makan siang dengan pihak Esia Provider siang  ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Aku hanya bisa menarik nafas panjang, mendengar kabar Aya, sahabatku yang tinggal di Bali. Beberapa waktu ini, aku banyak mendengar kisah asmara Aya dengan Reynaldi, kekasih Aya yang berbeda keyakinan. Aya memberitahuku seperti apa sosok Rey. Pembalap yang memuja mobilnya, seseorang yang pernah terjerumus pada obat-obatan terlarang karena wanita, pemilik sebuah yayasan rehabilitasi. Dari gambaran itu saja, kudapati sebuah kenyataan yang sulit mereka hadapi. Aku mengenal keluarga besar Aya dengan baik. Hemm, namun pagi ini saat aku sibuk dengan puluhan file di ruang meeting, sebuah message masuk ke blackberry merahku. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Aya Imut (08523632xxxx)&#8230;&#8221;Dy, aku gak kuat dengan cobaan ini. Diagnosa dokter, Rey terkena kanker otak ringan.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Duniaku kelabu, aku harus menjadi wanita super kuat untuk seorang sahabat yang sangat membutuhkan bantuan energiku. aku hanya mampu memintanya bersabar, dan pelan-pelan kuberitahu bahwa, Raja juga sedang mengalami sakit yang serius. Aya menangis, dia merasa Tuhan tak adil pada kami.  Aku hanya bisa memberi semangat bagaikan wonder woman padanya. Akh Aya, akupun sedang galau.</span></p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Jogyakarta, 18.00 WIB</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Dear Diary,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Raja semakin parah&#8230; Besok dia akan menjalani <em>hi treatment</em>, <em>hopefully</em>, treatment ini akan bisa melancarkan kembali darahnya yang beku. Jika tidak, aku harus segera mengambil tiket untuk terbang ke negaranya, menemaninya operasi. Aku sangat tidak nyaman mendengarnya harus dioperasi. Terlebih menemaninya di ujung belahan bumi lain, dimana aku hanyalah kekasihnya. Aku tidak siap dengan kemungkinan terburuk.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Dan siang ini, kembali Raja mengatakan sakitnya semakin parah, karena pertengkaran kami semalam. Getir, Raja menempatkanku dalam kursi pesakitan. Setelah semalam dia memintaku mengakui sesuatu yang tak kulakukan, dia terus menanyakan hal-hal kecil yang sudah pernah kami bahas. Kenapa lagi ini Tuhan&#8230; </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Sesorean ini, aku mendengarnya berkeluh kesah tentang sakitnya. Aku tau pasti sangat sakit, karena Raja tak pernah mengeluh sakit padaku jika tidak benar-benar sedang sakit. Dan, diantara riuh keluh kesahnya, terucap sebuah kalimat, <em>&#8220;i miss my home&#8221;.  </em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Dadaku seperti tak berasa, tubuhku kram. Aku merasakan nada lelah dalam kalimat Raja. Tuhan, lelahkah dia pada semua ini? Terbersit sebuah kesimpulan dari otakku. Raja capek dengan perjuangan ini, Raja mungkin berpikir semua ini tak perlu terjadi jika dia tak bertemu denganku. Mungkin Raja bisa kembali dalam perangkap &#8216;calon mantan istrinya&#8217; itu, dan tetap hidup dengan anak-anak mereka, bisa tertidur nyenyak dalam rumah mereka yang megah, tanpa harus menempati apartment seperti sekarang sejak proses preceraian itu berjalan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Diary, aku hanya mampu mendengarkan. Hanya sanggup terus menjadi wonder woman. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Malam ini, aku ingin menghabiskan waktu menyusuri ujung ke ujung Malioboro. Aku ingin berbagi resah, pada malam, pada gemerincing pengamen jalanan. Semoga aku menemukan sebuah gelang indah, dengan rajutan warna-warni di pinggiran Malioboro.</span></p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Jogyakarta, 01 Agustus 1999  (23.30 WIB)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Dear Diary,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Diary, kali ini aku menangis. Ini semua mulai terlalu berat di pundakku. Aku lelah menjadi wonder woman. Aku merasa Raja mencintaiku dengan caranya, tidak dengan kehangatan yang dihadirkan untuk memberiku sebuah arti. Raja, taukah kau apa yang kurasakan, taukah kau akan sebuah kerinduan yang menderaku. Taukah kau, diatas semua masalahmu, aku menunggumu. Aku setia menunggumu, menantikanmu datang .</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Hari ini, kau jalani pengobatan awal untuk penyembuhanmu. Entahlah, aku jadi tak tau apa yang harus kukatakan pada diary usang ini. Aku penat, aku tak mengerti apa yang kau inginkan dariku Raja. </span></p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Jogyakarta,  02 Agustus 1999   (15.00 WIB)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Dear Diary,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Tergoda aku tuk&#8217; berfikir, dia yang terindah</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Mengapa t&#8217;lah lama tak nampak, dirimu disini</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Jangankan ingin ku tersenyum, tak ada gairah,</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Kuingin slalu bersamamu, kini ku resah</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Diriku lemah tanpamu,</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Gapai semua jemariku, rangkul aku dalam bahagiamu</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Kuningin bersama berdua, selamanya</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Jika kubuka mata ini, kuingin selalu ada dirimu</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Dalam kelemahan hati ini, bersamamu</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Aku tegar</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Lirik lagu Rosaa, menemaniku packing siang ini. Tak banyak yang kubawa ke kota kembang, tempatku menghabiskan cuti sebulan ke depan. Bandung kupilih menjadi tempat untukku menenangkan diri dari seluruh ketegangan yang mengiringi hidupku beberapa bulan terakhir ini. Di sana, setidaknya aku bisa mendapati diriku berada di kota lain yang udaranya lebih segar, dan aku masih bisa menghabiskan waktu bersama temanku, karena kupikir, beberapa minggu ke depan, aku masih belum bisa menjemput Raja di airport sebagaimana biasanya setiap dua minggu sekali.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Raja belum pulih. Hasil hi treatment yang dia jalani dua hari kemarin, hanya bertahan satu hari untuk membuatnya tidak kesakitan. Kemarin, aku masih sempat bernafas lega, mendengarnya berbicara banyak, mendapatinya mulai cerewet dengan segala curiganya padaku. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  akh Raja, aku merindukanmu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Sejak kemarin sore, saat berbicara di telepon, Raja mulai mengeluh kembali. Kudengar dia kesakitan lagi. Semalaman aku menghabiskan waktu dengan berdzikir, berharap kantuk menderaku. Tapi, hingga dini hari tadi, aku belum bisa memejamkan mata. Baru setelah mandi pagi, aku bisa mulai merasakan kantuk memaksaku memejamkan mata sejenak. Sampai kudengar telepon dari Raja. Aku tahu, raja berusaha baik-baik saja. Raja bilang padaku, &#8220;Hi Dy, Supermanmu sudah kembali. Sebentar lagi, aku bisa terbang kesana menemuimu.&#8221; Suaranya terdengar tergelak. Semua baik-baik saja, sampai&#8230;.kembali kudengar, Raja kesakitan lagi. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Aku terdiam, ragaku seolah terlepas dari jiwa. Kosong, aku merasakan sakit luar biasa yang dideritanya. Dan, aku tidak bisa menemuinya. Ini menyiksaku. Aku tidak bisa menelepon Lena, temanku yang bekerja di agen penjualan tiket, untuk segera terbang kesana, dan menemani Rajaku. Aku tidak bisa kesana, karena, Raja belum sepenuhnya milikku. Aku tidak bisa membuat situasi semakin sulit untuk kami berdua. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Kemarin, terakhir kudengar, wanita itu terus mengganggu hidupnya. Masih terus membuat sebuah situasi agar Raja, &#8216;kembali ke pangkuannya&#8217; itu istilah yang Raja berikan padaku. Aku sungguh tidak mengerti, kenapa wanita-wanita itu bisa menjadi sejahat itu. Kenapa sebuah harga diri bisa dipertaruhkan hanya untuk sebuah status dan harta. tapi aku sendiri, juga tidak benar-benar tahu apa yang sudah terjadi pada mereka selama ini. Aku tidak bisa mengambil kesimpulan, selain sebuah rasa takut. Bagaimanapun, aku belum benar-benar memiliki Raja. Aku tidak bisa mengambilnya dalam pelukanku, walau sekedar untuk merawat sakitnya. God, i&#8217;m afraid&#8230;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">&#8220;Mantan kekasihnya, mengaku hamil dan minta pertanggungjawaban dari Rey.&#8221; Aya berkata datar. Aku terhenyak mendengar suara Aya begitu datar, tanpa rasa. Aku sangat tahu Aya, dia juga begitu lelah, dia juga mengalami ketakutan yang sama denganku. Kabar yang terakhir kudengar dari Aya, mantan kekasih Rey pulang dari kuliahnya di Astralia. Aku mendengar nada kemarahan yang berusaha disimpan Aya, aku sangat mengerti, tentu Aya sangat cemburu, tentu Aya takut. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Aya, diantara semua yang coba kumengerti, diantara hati yang terus berusaha tegar, akupun mematikan rasa pada wanita itu, memutuskan urat sakit dan marahku, agar aku bisa menyimpan energi untuk membantu Raja sembuh dari sakitnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Hingga sore ini, saat akan berangkat ke Bandung, Raja belum meneleponku. Hanya beberapa sms tentang kerinduan yang kudapatkan darinya. Akupun takut meneleponnya, karena tak sanggup mendengarkan sakit yang dideritanya, tanpa bisa berbuat apa-apa.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Tuhan, kumohon, ampunilah kami. Berikanlah kemudahan untuk memperjuangkan cinta kami. Raja membuatku menjadi lebih baik, dan biarkan tetap begitu&#8230;</span></p>
<br />Posted in Diary Ladyra  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arrumsari.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arrumsari.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arrumsari.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arrumsari.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arrumsari.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arrumsari.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arrumsari.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arrumsari.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arrumsari.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arrumsari.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arrumsari.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arrumsari.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arrumsari.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arrumsari.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arrumsari.wordpress.com&amp;blog=4560031&amp;post=126&amp;subd=arrumsari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arrumsari.wordpress.com/2009/04/28/diary-ladyra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51dd719eb0f27922f3af6ce8b9171983?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">arrumsari</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
